MEROKOK DI KALANGAN REMAJA

Pemerintah Wajib Selamatkan Anak dari Rokok

Kamis, 2 September 2010 | 10:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Industri rokok dinilai menciptakan citra seakan-akan rokok adalah barang normal yang dapat dikonsumsi siapa pun. Mereka gencar melakukan agresivitas pemasaran produknya melalui berbagai iklan, promosi, dan sponsorship.

“Inilah bentuk penyesatan yang dilakukan secara sengaja oleh industri rokok. Demi keberlangsungan bisnisnya, mereka tidak ragu mengeruk uang dari saku anak-anak, remaja, dan orang miskin,” ujar Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (2/9/2010).

Arist meminta pemerintah melarang aktivitas pemasaran industri rokok yang makin gencar apabila serius mau menyelamatkan dan melindungi anak-anak dari bahaya rokok sebagai zat adiktif.

“Pemerintah diminta segera mengeluarkan kebijakan yang melindungi anak dari bahaya rokok. Pemerintah juga harus melarang iklan, promosi, dan sponsor rokok serta memberi sanksi tegas kepada industri rokok yang menyasar anak dan remaja dalam kegiatan marketing-nya,” tegas Arist.

Sandi Adi Susanto, dulu dan sekarang. Arek Malang, Jawa Timur ini tumbuh jadi perokok dan suka berkata cabul karena orangtuanya membiarkan dia bergaul dengan lelaki jalanan.

Merokok Bikin Remaja Tambah Depresi

BEBERAPA remaja beralasan keputusan mereka untuk merokok disebabkan faktor lingkungan dan menurut mereka merokok bisa meredakan stress. Namun, berdasarkan hasil penelitian, rokok justru dapat memperparah gejala depresi.

“Remaja yang menggunakan rokok untuk mengenyahkan perasaan cemas dan stres memiliki risiko lebih besar mengalami gejala depresi ketimbang remaja bukan perokok,” kata profesor Jennifer O’Loughlin dari Universitas Montreal.

Guna mendukung pernyataan itu, diadakanlah uji coba yang melibatkan 662 remaja sekolah menengah atas. Mereka diminta mengisi kuesioner mengenai efek rokok terhadap pribadi mereka.


Para siswa diambil dari berbagai sekolah menengah atas, mulai dari sekolah di perkotaan, perdesaan, sekolah dengan siswa dengan tingkat ekonomi baik, sedang, dan rendah. Mereka lalu dibagi menjadi tiga kelompok, pertama siswa yang tak pernah merokok, kedua, siswa yang merokok bukan untuk meredakan stres, memperbaiki mood, atau memperbaiki suasana hati, dan ketiga siswa yang merokok untuk memperbaiki suasana hati.

Gejala depresi lalu diukur menggunakan skala dari pertanyaan seberapa seringkah partisipan merasa letih melakukan kegiatan, mengalami kesulitan tidur, merasa sedih, atau depresi.

Hasil penelitian menemukan bahwa bukannya dapat memperbaiki suasana hati atau meredakan stres, melainkan merokok justru meningkatkan gejala depresi di kalangan remaja. (Pri/OL-06)

Terapkan “Gambar Seram” di Bungkus Rokok!

Jumat, 27 Agustus 2010 | 13:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Meningkatnya jumlah perokok remaja dari tahun ke tahun membuktikan kalau upaya pemerintah mengkampanyekan bahaya merokok tidak berhasil. YLKI menilai, salah satu penyebab kegagalan itu adalah belum juga dicantumkanya peringatan bahaya merokok berbentuk gambar pada kemasan. Penempatan gambar efek buruk merokok pada kemasan sudah  diterapkan di luar negeri, namun tidak dilakukan di negeri ini.

“Harusnya peringatan bahaya rokok di Indonesia tidak hanya berupa kata-kata, tapi mengandung gambar,” kata Tulus Abadi, Pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di Jakarta Kamis (26/08/10) kemarin.

“Di luar negeri, rokok merek dalam negeri menggunakan informasi bahaya rokok dengan gambar. Namun di negara sendiri jusru tidak. Padahal, bila tidak menggunakan gambar, remaja tidak yakin dengan informasi yang diberikan. Tapi jika menggunakan gambar pesannya pasti jelas,” tambah Tulus.

Menurut Tulus, kampanye bahaya rokok yang disampaikan di Indonesia sangat minim, meskipun pemerintah sudah menuntut produsen untuk menempatkan gambar bahaya mengkonsumsi rokok.

“Tiga puluh tahun lalu, konsumsinya (rokok) baru 3 miliar batang per tahun, saat ini sudah 260 miliar per tahun,” kata Tulus

“Salah satu penyebabnya karena di sini (Indonesia) menggunakan kata-kata itu ukurannya kecil, tidak terlihat dan ditaruh di belakang. Jika menggunakan gambar minimal seukuran 50 persen (setengah kotak rokok) kemudian diletakan di depan maka konsumen gampang melihat, tidak seperti sekarang, bahaya merokok hanya ditempatkan di bagian belakang bungkus, ” kata Tulus.

Pesan gambar dinilai Tulus lebih berpengaruh, “Meskipun tidak menurunkan secara total pemakaian gambar hanya merupakan salah satu instrumen untuk mendukung kampanye bahaya rokok selain iklan, dan kenaikan cukai. Tapi paling tidak bila menggunakan gambar terlihat lebih tegas,” imbuh Tulus.

Berkaca dari Thailand, Tulus mengingatkan pihak Indonesia juga menggunakan peringatan bahaya merokok berupa gambar. “Bila di Thailand pengguna rokok tetap berada dalam level 10 juta orang dari tahun ke tahun. Hal itu menunjukkan meskipun tidak menunurun, namun konsumsi penguna rokok tidak meningkat,” kata Tulus.

YLKI mencatat, jumlah perokok kalangan remaja (10-14 tahun) di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada tahun 1995, remaja yang merokok tercatat  1.439.837 orang,  pada tahun 2007 jumlahnya melonjak hingga 4.227.601 orang.

One response

  1. diva

    Kalau hanya tulisan aja yang terpangpang dibungkus rokok tidak akan jera para perokok mendingan di isi gambar-gambar seram misalnya gmbr pnkt kangker..

    7 January 2012 at 21:18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s